Denpasar, Surya Indonesia.net – Nama Kapten Anumerta Ida Bagus Putu Djapa tidak bisa dilepaskan dari sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Denpasar. Lahir dari keluarga Geriya Bengkel, Banjar Bengkel, Denpasar, Djapa pernah mengikuti pendidikan militer PETA pada masa pendudukan Jepang. Setelah itu ia menjadi perwira dan terlibat dalam perjuangan bersenjata setelah Proklamasi.
Ketika pasukan Belanda/NICA kembali mendarat di Bali pada 2 Maret 1946, para pejuang Denpasar menyusun rencana untuk melakukan serangan. Pada 11 April 1946, berlangsung Serangan Umum Kota Denpasar dengan sasaran antara lain Tangsi Kayumas, Tangsi Satria dan Lapangan Terbang Tuban. Djapa bersama Letnan Kusuma Yuda memimpin sekitar 800 pejuang dari arah timur. Dalam pertempuran tersebut, sejumlah pejuang gugur, termasuk Djapa. Ia gugur di sekitar Tangsi Kayumas, wilayah yang kini berada di kawasan Renon.
Untuk mengenang perjuangannya, namanya kemudian diabadikan sebagai Jalan Kapten Japa di kawasan Yangbatu, Denpasar. Pemerintah Daerah Tingkat II Badung juga membangun Patung Pahlawan Kapten Anumerta Ida Bagus Putu Djapa di Bundaran Niti Mandala Renon. Monumen tersebut diresmikan pada 20 November 1987, bertepatan dengan peringatan Puputan Margarana ke-41. Lokasinya dipilih karena berkaitan langsung dengan kawasan perjuangan dan tempat gugurnya Djapa.
Kini, setiap kali warga melewati Jalan Kapten Japa atau melihat patungnya di Renon, nama tersebut menjadi pengingat bahwa Denpasar juga memiliki sejarah perjuangan yang panjang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
( red)

























