Buleleng, Surya Indonesia.net – Drs. I Ketut Wirata Sindhu merupakan salah satu tokoh yang pernah memimpin Kabupaten Buleleng pada periode 1993–2002. Pada masa kepemimpinannya, Buleleng menghadapi kondisi ekonomi dan sosial yang belum seperti sekarang. Menurut kesaksian mantan Sekda Buleleng Dewa Ketut Puspaka, Wirata Sindhu dikenal menggunakan pendekatan humanis dan bermartabat dalam menjalankan pemerintahan. Era tersebut juga disebut sebagai periode pembangunan fondasi ekonomi daerah di tengah tingginya persoalan kemiskinan.
Salah satu jejak yang kemudian dikaitkan dengan masa kepemimpinannya adalah perkembangan sektor kebudayaan. Gedong Kirtya dikembangkan menjadi museum yang menyimpan berbagai koleksi lontar dan manuskrip Bali. Sementara Museum Buleleng juga mulai direalisasikan dari gagasan yang sebelumnya telah muncul dan kemudian dilanjutkan atas dorongan Wirata Sindhu. Museum tersebut akhirnya dibuka pada 20 Maret 2002.
Namun, perjalanan politiknya sebagai bupati juga tidak sepenuhnya tanpa polemik. Catatan arsip pemberitaan tahun 2001 menyebut Wirata Sindhu secara resmi mengundurkan diri setelah laporan pertanggungjawabannya ditolak DPRD Buleleng sebanyak dua kali.
Setelah masa jabatannya berakhir, kiprahnya berlanjut di dunia pendidikan. Ia dikenal sebagai salah satu pendiri Universitas Ngurah Rai (UNR) Denpasar dan kemudian aktif sebagai pembina kampus tersebut. Bahkan ketika kondisi kesehatannya menurun, keluarga menyebut ia masih rutin datang ke kampus dan mengikuti perkembangan akademik.
Wirata Sindhu meninggal dunia pada 7 Oktober 2019 dalam usia 77 tahun. Setelah wafat, kontribusinya kembali dikenang, termasuk melalui Life Time Achievement Award dari Komunitas Jurnalis Buleleng pada 2019.
( red)

























