Breaking News

Krama Bali Wajib Tahu, Hanya Koster-Giri Usung Warna Sakral Tridatu, Paslon Lain Tidak

Sabtu, 19 Oktober 2024 - 11:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Denpasar , Surya Indonesia.net – Krama Bali wajib tahu, hanya paslon Gubernur dan Wakil Gubernur Bali nomor 2 Wayan Koster dan Nyoman Giri Prasta (Koster-Giri) yang mengusung warna sakral di Bali. Warna Tridatu selalu menjadi identik Koster-Giri dalam setiap agenda kampanye terbuka dan pertemuan dengan krama Bali. Hal ini tak terlihat dari karakter paslon lain di Bali.
Dalam setiap momen, Koster-Giri pasti sering berkoordinasi soal penggunaan busana adat Bali. Biasanya, Koster akan mengenakan busana adat Bali dominasi warna putih mulai dari kamen, saput dan udeng.
Sementara Giri Prasta Bupati Badung dua periode, identik dengan busana adat Bali berwarna hitam.
Jika kampanye bersamaan dengan paslon Bupati dan wakil Bupati yang diusung PDI Perjuangan, para paslon Bupati kerap menggunakan busana adat serba merah.
Saat berdiri diatas panggung, diatur dengan urutan warna sakral Tridatu yaitu dimulai dari merah, putih dan hitam.
Koster-Giri juga menaati kesakralan ini. Biasanya Koster akan berdiri atau duduk di tengah, diapit Giri disebelah kiri dan paslon bupati dan wakil bupati di sisi kanan.
“Warna yang paling sakral di Bali adalah warna Tridatu.
Merah, putih, hitam,” kata Calon Wakil Gubernur Bali nomor 2 Giri Prasta ketika kampanye terbuka di Karangasem beberapa waktu lalu.
Hal ini tak sekedar omong-omong. Terlihat saat kampanye di Karangasem, beberapa waktu lalu. Paslon Bupati Karangasem nomor 2 Gede Dana dan Nengah Swadi menggunakan busana serba merah, mengapit Koster yang mengenakan putih dan Giri mengenakan busana serba hitam.
“Di sini Pak Gede Dana merah, Pak Gubernur (Koster) Putih, dan Pak Giri hitam,” kata Giri.
“Kita perkuat warna Tridatu untuk krama Bali yang kita cintai bersama. Selain itu, warna lain tak ada di Bali,” tambah Giri Prasta.
Untuk diketahui, dilansir dari beragam sumber, warna tridatu memiliki makna sebagai lambang manifestasi kesucian Tuhan dalam bentuk Trimurti, yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa.
Merah melambangkan Dewa Brahma, sebagai pencipta, Putih melambangkan Dewa Siwa, sebagai pelebur Hitam melambangkan Dewa Wisnu, sebagai pemelihara.
Tridatu juga melambangkan Tri Kona, yaitu tiga perjalanan hidup manusia, yaitu lahir, hidup, dan mati. Dengan memakai gelang tridatu, diharapkan manusia selalu mengingat Tuhan sebagai pencipta, pemelihara, dan pelebur.

(*)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berita Terkait

Tindakan Eksistensial Politik, Provokasi, dan Kebuntuan Negosiasi dalam Konstruksi Dechiperisme
DEMOKRASI PANCASILA
Kondisi Sosial Politik di Indonesia dalam Konstruksi Dechiperisme
Konstruksi Idiologi Politik di Indonesia Menjelang Sebuah Orde
IACN Soroti Penanganan Kasus Saripah Hanum Lubis, Tekankan Harus Tuntas dan Tidak Dipolitisasi
Proyeksi Dunia Sosial Politik dalam Konstruksi Dechiperisme
Sebelum Kerja, Satgas TMMD Gelar Apel Pagi Dipimpin Komandan SSK
Ruang Sosial POLITIK dalam Konstruksi Dechiperisme

Berita Terkait

Jumat, 8 Mei 2026 - 17:48 WIB

Tindakan Eksistensial Politik, Provokasi, dan Kebuntuan Negosiasi dalam Konstruksi Dechiperisme

Kamis, 7 Mei 2026 - 20:19 WIB

DEMOKRASI PANCASILA

Rabu, 6 Mei 2026 - 20:17 WIB

Kondisi Sosial Politik di Indonesia dalam Konstruksi Dechiperisme

Senin, 4 Mei 2026 - 13:42 WIB

Konstruksi Idiologi Politik di Indonesia Menjelang Sebuah Orde

Minggu, 3 Mei 2026 - 19:12 WIB

IACN Soroti Penanganan Kasus Saripah Hanum Lubis, Tekankan Harus Tuntas dan Tidak Dipolitisasi

Minggu, 3 Mei 2026 - 13:39 WIB

Proyeksi Dunia Sosial Politik dalam Konstruksi Dechiperisme

Minggu, 3 Mei 2026 - 08:22 WIB

Sebelum Kerja, Satgas TMMD Gelar Apel Pagi Dipimpin Komandan SSK

Kamis, 30 April 2026 - 17:05 WIB

Ruang Sosial POLITIK dalam Konstruksi Dechiperisme

Berita Terbaru