Suryaindonesia.net
Bitung | Dalam berbagai kegiatan keilmuan, baik yang diikuti oleh pembimbing ilmu maupun para pencari ilmu, masyarakat diingatkan tentang pentingnya menjaga adab ketika bermajelis, terutama di tengah perbedaan pemahaman yang kerap muncul. Sebuah majelis tidak hanya menjadi tempat bertukar wawasan, tetapi juga ruang untuk membangun etika, persaudaraan, dan kedewasaan berpikir.
Karena itu, suasana yang santun, tenang, dan saling menghargai dipandang sebagai syarat utama agar ilmu dapat diterima dengan baik dan tidak menimbulkan perselisihan. Adab menjadi pedoman agar proses belajar berjalan tertib dan penuh keberkahan. Perbedaan sudut pandang merupakan bagian dari luasnya ilmu Allah, namun etika antara pembimbing ilmu dan pencari ilmu tetap wajib dijaga.
“Adab Ketika Bermajelis Ilmu :
Menghormati Sesama
Menghormati pembimbing ilmu dan pencari ilmu, menjaga tutur kata, serta tidak merendahkan pendapat.
Tidak Memotong Pembicaraan
Menunggu seseorang selesai berbicara, terutama ketika penjelasan sedang disampaikan.
Menjaga Lisan
Tidak meninggikan suara, menghindari caci maki, dan menjauhi ucapan yang dapat menyinggung.
Menerima Perbedaan
Perbedaan pemahaman dipandang wajar, bukan alasan untuk memicu perdebatan emosional.
Menjaga Ketertiban Majelis
Tidak membuat gaduh atau sibuk sendiri, serta menjaga ketenangan sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu.
Mengutamakan Persaudaraan.
Meski berbeda pandangan, hubungan baik tetap dijaga. Prinsipnya, kita tetap bersaudara.
Mendengarkan dengan Sungguh-sungguh
Menyimak penjelasan dengan fokus, tidak menyela, dan menunjukkan sikap rendah hati sebagai pencari ilmu.
Dasar Hukum Agama (Syariat Islam)
1. Al-Qur’an
QS. Al-Hujurat: 10
Menegaskan bahwa sesama mukmin adalah saudara, sehingga majelis ilmu harus menjadi ruang persatuan.
QS. An-Nahl: 125
Menganjurkan penyampaian ilmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan akhlak mulia.
QS. Al-Mujadalah: 11
Menekankan adab dalam majelis, termasuk memberi ruang dan menjaga ketertiban.
QS. Al-Hujurat: 11–12
Larangan mencela, merendahkan, dan berprasangka buruk.
2. Hadis Nabi SAW
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari Muslim)
Majelis ilmu akan memberi manfaat besar ketika adab dijaga, perbedaan disikapi dengan bijaksana, dan hubungan antara pembimbing ilmu serta pencari ilmu dibangun di atas penghormatan. Adab bukan sekadar pelengkap, tetapi cahaya yang membuat ilmu mudah diterima dan menghadirkan keberkahan dalam kehidupan.





















