Jakarta, Surya Indonesia.net – Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menegaskan pentingnya Indonesia memperkuat kekuatan udara di tengah cepatnya perubahan lanskap peperangan global.
Dalam kuliah umum di Gedung Lemhannas, SBY mengingatkan bahwa dunia telah memasuki era perang modern yang tidak lagi sepenuhnya bertumpu pada kekuatan darat. Ia menyoroti munculnya perang siber, kecerdasan buatan (AI), robotik, hingga strategi di luar pola pikir konvensional sebagai faktor yang kini menentukan dalam pertahanan negara.
“Dunia AI, dunia robotik, dunia beyond conventional thinking, conventional warfare, kita harus siap. Jadi jangan takut,” ujar SBY.
Menurutnya, Indonesia tidak bisa terus bergantung pada doktrin lama yang menempatkan angkatan darat sebagai kekuatan utama. Dalam konteks ancaman modern, kekuatan udara (air power) justru menjadi sangat krusial.
“Dulu seolah-olah untuk Indonesia diutamakan angkatan darat atau army. Sekarang, air power ini sangat penting,” tegasnya.
SBY juga memancing pemikiran dengan skenario serangan udara terhadap objek vital nasional. Ia mempertanyakan kesiapan Indonesia jika terjadi air strike yang menyasar Jakarta, industri pertahanan di Bandung, Surabaya, dan kota strategis lainnya.
Ia menjelaskan bahwa doktrin pertahanan keamanan rakyat semesta (Hankamrata) di masa lalu berfokus pada menghadang musuh di perbatasan, mempertahankan wilayah pantai dan pulau besar, hingga perang gerilya. Namun perkembangan teknologi militer membuat pola serangan kini bisa berlangsung sangat cepat dan langsung menghantam pusat pemerintahan maupun objek vital.
Karena itu, SBY menekankan Indonesia perlu membangun sumber daya manusia, meningkatkan keterampilan, serta menyusun kebijakan pertahanan yang adaptif terhadap perubahan zaman.
( red)

























