Jakarta, Surya Indonesia.net – Aksi begal muncul secara cukup masif dalam beberapa waktu belakangan, terutama di sekitar ibu kota Jakarta. Rentetan kejadian ini marak diberitakan oleh media massa dan disebarluaskan kepolisian di bermacam platform, menurut peneliti media sosial.
Sepanjang April hingga pertengahan Mei 2026, beberapa rekaman CCTV yang menunjukkan aksi begal ramai ditonton. Bahkan muncul tagline khusus yang menggambarkan fenomena ini: ‘Jakarta darurat begal.’

Di media sosial, isu begal telah menjadi “krisis” yang menciptakan kepanikan dan ketakutan bagi khalayak luas, mengacu argumen peneliti kebijakan publik dari Monash University, Ika Idris.
Penyebabnya, informasi sehubungan begal “diamplifikasi oleh media massa,” imbuh Ika.
Di luar pemberitaan media, narasi perkara begal turut didistribusikan pihak kepolisian.
“Akhirnya muncul framing bahwa memang Jakarta darurat begal dan harus ada Tim Pemburu Begal,” paparnya.
“Apakah ini didesain atau enggak, saya melihat, intinya, ketika ada begal, polisi langsung menaikkan narasi bahwa mereka siap mengamankan.”
Aparat keamanan, baik Polri maupun TNI, menyatakan bakal merespons tindak pidana begal secara serius.
Polda Metro Jaya mendirikan unit tersendiri bernama Tim Pemburu Begal, disusul wacana instruksi agar begal ditembak di tempat.
Sementara TNI menyatakan tidak menutup kemungkinan akan menurunkan personelnya, melalui batalyon-batalyon yang baru diresmikan.
BBC News Indonesia mengurai perbincangan mengenai aksi begal di media sosial serta narasi “tembak di tempat” yang mengekor di belakangnya.
( red)

























