
Denpasar, radarbalinews.com — Pemerhati lingkungan dan budaya Bali asal Austria, Andi Krismaya, menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya menjaga kelestarian alam Bali di tengah pesatnya pembangunan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Menurutnya, Bali saat ini mengalami banyak perubahan dibandingkan 20 hingga 30 tahun lalu, mulai dari perkembangan infrastruktur hingga peningkatan kondisi ekonomi masyarakat Bali yang dinilai semakin baik.
Andi menuturkan, dahulu Bali dikenal lebih tenang, alami, dan jauh dari kemacetan. Namun kini, kepadatan kendaraan dan persoalan sampah menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius. Ia berharap pembangunan Bali ke depan dapat dirancang lebih baik, termasuk menghadirkan jalan-jalan besar untuk mengurangi kemacetan, tanpa menghilangkan karakter alami Pulau Dewata yang selama ini disukai wisatawan asing.
“Orang asing datang ke Bali karena suka suasana alami, udara segar, dan ketenangan. Bali harus tetap hijau. Minimal 40 persen wilayah kota seharusnya menjadi ruang hijau demi kesehatan masyarakat. Pohon itu penting karena menghasilkan oksigen,” ujar Andi. Ia juga menilai bangunan-bangunan rusak atau terbengkalai dapat dimanfaatkan menjadi ruang hijau terbuka untuk mendukung keseimbangan lingkungan.
Lebih lanjut, Andi mengapresiasi masyarakat Bali yang menurutnya kini semakin dekat dengan nilai spiritual dan alam. Ia menyoroti konsep Tri Hita Karana sebagai filosofi hidup yang sangat baik karena mengajarkan keseimbangan dan keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan. Menurutnya, konsep tersebut sangat relevan untuk menjaga masa depan Bali agar tetap lestari dan harmonis.
Di akhir penyampaiannya, Andi berharap seluruh masyarakat dapat hidup dengan rasa persaudaraan tanpa memandang status sosial. “Dalam kehidupan ini kita hidup sama rata, tidak ada yang lebih tinggi ataupun lebih rendah. Kita harus hidup rukun, sejahtera, dan saling menjaga, termasuk menjaga alam Bali agar tetap lestari untuk generasi mendatang,” tutupnya.
(Irn)

























