Denpasar, Surya Indonesia.net – Kain poleng yang menjadi salah satu simbol khas Pulau Bali tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap adat, tetapi juga mengandung makna filosofis mendalam tentang keseimbangan alam semesta. Di Pulau Seribu Pura, kain bermotif kotak-kotak ini kerap dijumpai di berbagai tempat sakral, seperti pura dan pepohonan yang dianggap memiliki nilai spiritual tinggi.
Masyarakat Bali meyakini kain poleng sebagai simbol keharmonisan antara dua kekuatan, baik dan buruk. Selain digunakan dalam upacara keagamaan, kain poleng juga sering dikenakan oleh pecalang sebagai identitas sekaligus perlindungan secara niskala. Keberadaannya menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Seorang penekun spiritual asal Bali, Jro Tunjung, menjelaskan bahwa kain poleng memiliki tiga warna utama, yakni hitam, putih, dan abu-abu yang merepresentasikan konsep Rwa Bhineda. “Hitam dan putih melambangkan dua sisi kehidupan, suka dan duka. Sedangkan abu-abu adalah penengah yang mengajarkan kita untuk tetap tenang dan bijaksana,” ujarnya kepada awak media.
Lebih lanjut, Jro Tunjung mengajak seluruh masyarakat untuk tetap menjaga dan melestarikan penggunaan senteng poleng maupun wastra poleng sebagai bagian dari warisan leluhur Bali. Menurutnya, kain poleng tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menjadi simbol penting dalam menjaga keseimbangan alam serta mempererat hubungan manusia dengan semesta.
“Melalui pelestarian kain poleng, kita tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga merawat harmoni kehidupan agar tetap seimbang antara sekala dan niskala,” tutupnya.
(Irn)

























