Suryaindonesia.net
Bitung | Dalam upaya memperkuat pemahaman keagamaan di tengah masyarakat, kembali ditegaskan pentingnya memahami struktur keilmuan Islam secara utuh. Pemahaman ilmu tidak berhenti pada hukum lahiriah saja, namun mencakup empat jalan yang saling melengkapi: syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat. Keempatnya menjadi satu kesatuan dalam proses seorang hamba mendekat kepada Allah secara benar.
Disampaikan bahwa syariat merupakan fondasi utama yang mengatur tata cara ibadah, halal-haram, serta aturan lahiriah seorang muslim. Dasarnya terdapat pada firman Allah: “Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah…” (QS. Muhammad: 19), serta hadis Nabi ﷺ: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim” (HR. Ibnu Majah). Syariat menjadi pijakan awal bagi setiap penuntut ilmu sebelum melangkah ke tingkat pemahaman berikutnya.
Setelah syariat, seorang penuntut ilmu menapaki tahap tarekat, yaitu proses melatih diri agar konsisten menjalankan syariat. Tarekat dipahami sebagai jalan disiplin, pembiasaan, dan penataan diri agar ibadah tidak hanya dipahami, tetapi dijalankan dengan kesungguhan. Firman Allah: “Bertanyalah kepada orang-orang berilmu jika kalian tidak mengetahui” (QS. An-Nahl: 43), menjadi dasar bahwa perjalanan ilmu memerlukan arahan untuk menjaga langkah tetap pada jalan yang benar.
Tahap berikutnya adalah hakikat, yaitu pemahaman makna terdalam dari ibadah yang dijalankan. Pada tahap ini seorang hamba tidak hanya menjalankan ibadah secara fisik, tetapi mulai merasakan kehadiran Allah melalui kejernihan hati. Al-Qur’an menegaskan: “Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih” (QS. Asy-Syu’ara: 88–89). Hakikat adalah perjalanan batin menuju ketulusan, keikhlasan, dan kebeningan jiwa sebagaimana dijelaskan dalam hadis: “Sesungguhnya Allah melihat hati dan amal kalian” (HR. Muslim).
Adapun puncak perjalanan ilmu adalah makrifat, yaitu pengenalan hati yang mendalam kepada Allah. Makrifat bukan berarti keluar dari syariat, melainkan menjadi buah dari syariat, tarekat, dan hakikat yang dijalankan secara benar. Dasarnya terdapat pada firman Allah: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah hanyalah para ulama” (QS. Fathir: 28), dan sabda Nabi ﷺ dalam hadis Jibril: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya…” (HR. Muslim). Pada tingkat ini, hati mencapai keyakinan, ketenangan, serta kedekatan spiritual melalui cahaya iman.
Keempat jalan tersebut tidak dapat dipisahkan. Syariat tanpa hakikat akan kering, sedangkan hakikat tanpa syariat akan tersesat. Tarekat dan makrifat menjadi proses dan puncak penyempurnaannya, tetap berada dalam batas ajaran Nabi Muhammad ﷺ.
Para pencari ilmu diharapkan memahami bahwa perjalanan ini bersifat bertahap: mempelajari hukum lahiriah, melatih diri, membersihkan hati, hingga mencapai pengenalan yang yakin kepada Allah. Keseluruhan proses ini adalah satu rangkaian yang saling menguatkan.
Dengan pemahaman empat jalan ini, Kita diharapkan semakin bijak dalam memaknai ilmu, tidak hanya dari aspek amalan lahir, tetapi juga dari pembinaan batin yang mengantarkan pada kedewasaan spiritual, ketenangan hidup, serta kedekatan yang benar kepada Allah.





















