Breaking News

Kemiskinan Batin Justru Lebih Parah Dari Kemiskinan Finansial Acapkali Dijadikan Tuhan Oleh Manusia

Rabu, 23 Juli 2025 - 00:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini:

Kemiskinan Batin Justru Lebih Parah Dari Kemiskinan Finansial Acapkali Dijadikan Tuhan Oleh Manusia
Oleh Jacob Ereste

Kemiskinan batin bisa sangat mendalam dan menyentuh berbagai aspek kehidupan, seperti kehampaan makna hidup hingga dapat kehilangan arah atau tujuan dari hidup itu sendiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Karenanya, acap menjadi penyebab utama krisis moral dan etika karena tidak terpenuhinya nilai-nilai spiritual yang membingkai etika dan moral dalam diri manusia yang normal.

Selebihnya, kemiskinan moral akan menyebabkan stres dan timbulnya berbagai macam kecemasan akibat batin tidak dapat ditenangkan dalam merespon berbagai masalah yang menyentuh atau melabrak ketenangan jiwa.

Seharusnya bisa didapatkan dari ketenangan dan ketenteraman batin yang mampu melindungi dari beragam bentuk kegaduhan. Akibat terberat dari kekosongan batin ini bisa menyebabkan ganguan mental bagi yang bersangkutan.

Biasanya, hilangnya rasa empati dan kasih sayang bisa bermula dari kemiskinan batin yang semakin kecil daya vibrasinya untuk menggetarkan rasa kepedulian dalam jalinan ikatan sosial terhadap orang banyak.

Akibatnya bisa berlanjut pada sikap dan sifat ketergantungan pada Materialistik yang dianggap mampu untuk menutupi kelemahan dari kemiskinan batin yang tidak mampu diatasi secara psikologis.

Dan, batin yang lebih baik dan dapat memberi banyak manfaat bagi keseimbangan jiwa ikut terimbas dari kemiskinan batin yang tak bisa teratasi untuk dapat menjadi manusia berjiwa normal.

Kecuali itu, kemiskinan batin dapat menyebabkan hilangnya daya juang — elan vital dan etos kerja yang gigih dan tangguh — sehingga jadi terkesan kalah akibat dari sikap menyerah, bukan dalam pengertian yang pasrah.

Sebab, siapapun tanpa kekuatan batin gampang putus asa dan menyerah sebelum kalah.

Sehingga sikap sebagai petarung menjadi ciut dan melempem, seperti kempes dalam ketidakberdayaan sama sekali untuk tetap dan terus berjuang.

Ibaratnya yang agak tepat, kemiskinan batin yang dialami seseorang akan kehilangan jiwa — ruh — dalam perjuangan hidup yang harus dilakukan.

Karena hidup itu sendiri adalah perjuangan yang harus tetap dan terus dilakukan, meski besok kita sudah tahu pasti akan mati.

Begitulah realitas yang acap terjadi, kemiskinan batin yang justru lebih parah akibatnya dari kemiskinan finansial acap dijadikan seperti Tuhan yang dianggap patut untuk dipuja dan disembah.

Sehingga harga diri atau bahkan kepribadian sebagai manusia yang sejati memiliki kemuliaan dari Allah, diabaikan begitu saja, atau bahkan digadaikan secara sadar untuk sekedar memiliki dan menikmati kemewahan yang sesungguhnya semu bahkan dapat menghancurkan diri sendiri.

Realitasnya begitulah, kemiskinan batin akan mengosongkan makna kehidupan yang hakiki, karena ketiadaan nilai-nilai spiritual.

Dampaknya, konsekuensi moral dan etika yang tergerus menyebabkan maraknya pelaku korupsi terjadi seperti di Indonesia, sebab kekayaan material atau finansial dianggap jauh lebih berharga dari nilai-nilai spiritual yang hilang — terlepas dari — jalinan nilai-nilai kemuliaan manusia. ***)

 

Posted: suryaindonesia.net
Banten, 22 Juli 2025

Author: Jacob Ereste, Penulis dan wartawan senior

Berita Terkait

Kisah Pak Sunarno Penjual Jamu Keliling di Pasar Sampoerna yang Menginspirasi
*Patroli KRYD dan Yustisi Polsek Baturiti Pantau SPBU, Perbankan dan Pasar Baturiti*
*Pengamanan Kegiatan Piodalan di Pura Terate Bang Berjalan Aman dan Kondusif*
*Pengamanan Jalur Menuju Obyek Wisata Bedugul Terpantau Aman dan Lancar*
Teror Dini Hari di Pulokerto : Ibu dan Bayi 11 Bulan Disekap 3 Pria Bertopeng, Polisi Didesak Segera Tangkap Pelaku
Pelayanan Humanis Satlantas Polresta Denpasar, Pemohon SIM Diberi Pendampingan Langsung
Pemkot Surabaya Dinilai Tidak Tegas, Gelombang Penertiban Dituding Menyasar ke Bawah
*Jaga Kondusivitas Tumpek Landep, Polsek Selemadeg Intensifkan Patroli KRYD*  

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 16:05 WIB

Kisah Pak Sunarno Penjual Jamu Keliling di Pasar Sampoerna yang Menginspirasi

Sabtu, 18 April 2026 - 15:52 WIB

*Patroli KRYD dan Yustisi Polsek Baturiti Pantau SPBU, Perbankan dan Pasar Baturiti*

Sabtu, 18 April 2026 - 15:50 WIB

*Pengamanan Kegiatan Piodalan di Pura Terate Bang Berjalan Aman dan Kondusif*

Sabtu, 18 April 2026 - 15:48 WIB

Teror Dini Hari di Pulokerto : Ibu dan Bayi 11 Bulan Disekap 3 Pria Bertopeng, Polisi Didesak Segera Tangkap Pelaku

Sabtu, 18 April 2026 - 15:47 WIB

Pelayanan Humanis Satlantas Polresta Denpasar, Pemohon SIM Diberi Pendampingan Langsung

Sabtu, 18 April 2026 - 15:46 WIB

Pemkot Surabaya Dinilai Tidak Tegas, Gelombang Penertiban Dituding Menyasar ke Bawah

Sabtu, 18 April 2026 - 15:45 WIB

*Jaga Kondusivitas Tumpek Landep, Polsek Selemadeg Intensifkan Patroli KRYD*  

Sabtu, 18 April 2026 - 15:43 WIB

*Atensi Peningkatan Arus Lalulintas, Personil Polsek Kediri Laksanakan Strong Point Sore*

Berita Terbaru