Jakarta, Surya Indonesia — Pengamat politik – dari WKMN, Daddy Palgunadi, menilai bahwa berbagai serangan terhadap Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden terpilih Gibran Rakabuming Raka bukanlah sasaran utama, melainkan bagian dari strategi politik untuk melemahkan posisi Presiden terpilih Prabowo Subianto.
Dalam bincang santai di program Warung Kopi Mbak Nanik, Daddy mengungkapkan pandangannya mengenai dinamika politik nasional pasca-Pemilu 2024. Ia menyebutkan bahwa banyak aktor politik di Indonesia cenderung mudah berubah sikap. “Politisi kita ini gampang ‘masuk angin’. Gampang goyah, gampang dikompromikan,” ujarnya sambil tersenyum, menggambarkan lemahnya konsistensi politik elite saat ini.
Kasus Hasto dan Politisasi Hukum
Daddy turut menyoroti kasus hukum yang menimpa Sekretaris Jenderal PDI-P, Hasto Kristiyanto, yang tengah menghadapi tuntutan tujuh tahun dari jaksa KPK. Ia menilai bahwa proses hukum ini sarat dengan permainan politik.
“Proses hukum terhadap Hasto sangat kental nuansa politisnya. Ini bukan semata soal keadilan, tetapi ada kepentingan kekuasaan yang ikut bermain,” ujarnya. Menurut Daddy, Hasto menjadi korban politisasi hukum, terutama di fase-fase penjatuhan hukuman.
Posisi Strategis PDI-P
Meski berada di luar lingkaran kekuasaan, PDI-P dinilai masih memegang peran penting dalam konstelasi politik nasional. “Yang berkuasa tidak bisa asal menekan PDI-P. Mereka sadar, PDI-P tetap berpotensi besar dalam Pilpres 2029,” jelas Daddy.
Prabowo dan Tantangan Kepemimpinan
Sebagai Presiden terpilih, Prabowo Subianto dinilai berada dalam posisi “nothing to lose”. Namun demikian, Daddy menekankan perlunya sikap tegas sebagai kepala negara. “Prabowo harus bisa menunjukkan ketegasannya. Tapi ia juga paham betul bahwa kemenangan ini tidak lepas dari peran besar Jokowi,” katanya.
Isu Ijazah Jokowi Tak Relevan
Terkait isu ijazah Presiden Jokowi yang kembali diangkat ke permukaan, Daddy menyebut hal itu tidak lagi relevan. “Itu hanya isu politis yang dipakai berulang. Tujuannya bukan menjatuhkan Jokowi, tapi justru melemahkan Prabowo. Ini serangan antara,” ujarnya.
DPR dan Kompromi Politik
Respon lambat DPR terhadap isu pemakzulan Gibran menurut Daddy disebabkan oleh tingginya kompromi politik di parlemen. “Di belakang layar, semua pihak masih saling mendekati. Termasuk upaya Prabowo untuk menjaga komunikasi dengan Megawati. Semua masih cair,” ungkapnya.
Kongres PDIP dan Suksesi Megawati
Mengenai belum digelarnya Kongres PDI-P, Daddy menduga hal itu berkaitan dengan belum adanya sosok yang dianggap tepat menggantikan Megawati Soekarnoputri. “Megawati ingin meninggalkan partai dalam keadaan kuat. Ia masih menimbang siapa yang benar-benar siap memimpin,” katanya.
Kebahagiaan yang Sederhana
Menutup obrolan hangat di Warung Kopi Mbak Nanik, Daddy membagikan pandangannya tentang makna kebahagiaan. “Kebahagiaan sejati itu bukan soal kekayaan. Tapi tentang kejujuran, ketenangan batin, kesabaran, dan pertemanan yang tulus,” tuturnya.