SURABAYA, Surya Indonesia.net – Banyak orang merasa umroh adalah ibadah bagi mereka yang mapan secara finansial atau sudah siap secara total. Sebagian lagi menunda karena merasa belum pantas, belum cukup ilmu, atau belum cukup amal. Padahal, pintu umroh selalu terbuka bagi siapa saja yang dipanggil Allah. Yang menjadi tugas manusia bukan memastikan keberangkatan, tetapi memantaskan diri untuk diundang.
“Semua orang bisa umroh, tetapi tidak semua orang dipanggil. Tugas kita bukan memastikan berangkat, melainkan memantaskan diri agar layak diundang,” ujar Evi Indriyani salah satu jamaah Samira Travel Jatim yang dibimbing oleh Ustadz Nafi Unnas. Beliau tidak hanya berangkat sendiri, namun Allah izinkan Bersama 8 anggota keluarganya.
Menurutnya, banyak jamaah yang berangkat dengan kondisi sederhana, bahkan secara ekonomi terbatas. Namun karena niat tulus dan usaha sungguh-sungguh, Allah mudahkan jalan mereka. Ada yang menabung bertahun-tahun, ada yang mendapat rezeki tak terduga, ada yang berangkat dari hadiah anak, bahkan ada yang diundang mendadak. Semua itu menunjukkan bahwa umroh bukan semata urusan kemampuan manusia, tetapi kehendak Allah.
Memantaskan diri dimulai dari memperbaiki niat. Umroh bukan untuk pamer foto di depan Ka’bah, bukan untuk status sosial, bukan pula untuk sekadar jalan-jalan. Umroh adalah perjalanan hati menuju Allah. Niat yang lurus akan mengundang keberkahan, bahkan sebelum kaki melangkah ke Tanah Suci.
Selain niat, memantaskan diri berarti memperbaiki ibadah harian. Shalat tepat waktu, menjaga lisan, menunaikan amanah, memperbanyak sedekah, dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Sebab perjalanan umroh bukan hanya fisik, tetapi perjalanan ruhani. “Kalau ingin dipanggil Allah ke Tanah Suci, perbaiki dulu hubungan dengan Allah dan manusia. Itu bentuk kita memantaskan diri,” kata alumni Pesantren Darussalam Gontor tersebut.
Sebagai dosen di UIN Sunan Ampel Surabaya, ia menambahkan bahwa ilmu juga bagian dari memantaskan diri. Jamaah yang belajar manasik dengan sungguh-sungguh akan lebih khusyuk saat ibadah. Mereka memahami makna thawaf, sa’i, dan doa-doa yang dipanjatkan. Ilmu membuat ibadah tidak sekadar ritual, tetapi kesadaran mendalam.
Dalam pengalamannya membimbing jamaah bersama Samira Travel, ia melihat banyak kisah mengharukan. Ada tukang becak yang akhirnya bisa umroh, ada ibu rumah tangga yang berangkat setelah puluhan tahun menabung recehan, ada pemuda yang berangkat setelah memperbaiki hidupnya. Semua kisah itu menunjukkan bahwa panggilan Allah tidak melihat status, tetapi kesungguhan.
“Jangan tanya kapan berangkat, tapi tanyakan apakah kita sudah pantas diundang,” ujarnya. Menurutnya, jika Allah belum memanggil, mungkin ada yang perlu diperbaiki dalam diri. Bukan putus asa, tetapi memperbaiki diri dengan sabar.
Karena itu, siapa pun bisa umroh. Tidak harus kaya, tidak harus sempurna, tidak harus menunggu tua. Yang dibutuhkan adalah hati yang rindu dan usaha yang tulus. Ketika manusia memantaskan diri, Allah yang memastikan jalannya. Umroh bukan hanya perjalanan menuju Makkah, tetapi perjalanan menuju kerendahan hati. Dan ketika hati sudah siap, undangan Allah akan datang pada waktu yang paling tepat.
(Redho)

























