Jembrana, Surya Indonesia.net – Cuaca buruk yang melanda perairan Selat Bali dalam beberapa hari terakhir mulai memukul ekonomi nelayan di Desa Pengambengan, Jembrana. Angin kencang yang terus menderu memaksa para nelayan membatasi aktivitas melaut demi keselamatan nyawa.
Kondisi laut yang tidak stabil membuat mayoritas nelayan memilih untuk tetap berada di darat atau hanya melaut di area pesisir. Bagi perahu berukuran sedang, risiko terjangkau angin kencang dinilai terlalu besar untuk memaksakan diri ke tengah samudra.
Salah satu pemilik perahu, Haiduri, mengungkapkan penurunan tajam yang dialami para nelayan. Dalam kondisi cuaca normal, satu kapal mampu membawa pulang sedikitnya 10 ton ikan, bahkan sempat menyentuh angka 42 ton saat musim puncak. Namun kini, mendapatkan 1,5 ton saja sudah menjadi tantangan berat.
“Sekarang paling dapat 1,5 ton. Biasanya bisa 10 ton. Penurunannya hampir 75 persen. Angin kencang lebih berisiko, jadi kami tidak berani jauh melaut,” ujar Haiduri saat ditemui di kawasan pantai, Senin 26 Januari 2026.
Meski nelayan tetap mencoba melaut sesuai rekomendasi pihak perikanan setempat, peluang untuk meraup hasil maksimal sangat kecil. Dampaknya mulai terasa di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pengambengan yang kini tampak lebih lengang dari biasanya.
Saat ini, para nelayan hanya bisa berharap kondisi cuaca di Selat Bali segera membaik. Pulihnya stabilitas angin menjadi tumpuan utama agar mereka dapat kembali berlayar jauh dan memulihkan pendapatan keluarga yang sempat terpuruk.
( red)

























