Kuta selatan, Surya Indonesia.net – Pengerjaan proyek di atas tebing dekat kawasan Pantai Suluban, Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, viral di media sosial. Dalam beberapa video yang beredar, terlihat sejumlah alat berat jenis excavator beroperasi di atas tebing tersebut. Proyek ini dikhawatirkan berdampak pada dua goa alami yang berada tepat di bawah lokasi pengerjaan.
Seorang Social and Environmental Activist, Piter Panjaitan, turut menanggapi aktivitas proyek tersebut. Dia mempertanyakan adanya pengeboran skala industri yang dilakukan di area tebing Pantai Suluban.
Padahal, di bawah lokasi proyek terdapat dua goa alami yang berpotensi terdampak langsung akibat aktivitas berat di atasnya. Selain itu, dia juga menyoroti desain bangunan yang diunggah di akun media sosial pihak proyek, yang terlihat berdiri sangat dekat dengan bibir tebing.
“Ada dua gua alami tepat di bawahnya. Dari desain yang dibagikan, bangunan itu berdiri di tepi tebing dan kita semua tahu itu tidak aman,” ujarnya, Selasa (27/1) siang.
Tak hanya aktivitas pengeboran, Piter juga menyoroti banyaknya pohon yang telah ditebang di kawasan tersebut. Menurutnya, pohon dan vegetasi memiliki peran penting dalam menjaga kekuatan dan kestabilan tebing. Akar-akar pohon sebelumnya berfungsi menahan air dan menstabilkan tebing.
“Tanpa itu, air hujan akan langsung masuk ke dalam gua, mengalir ke sungai dan ke laut. Lokasi ini hanya sekitar 50 meter di atas permukaan laut. Dengan hujan deras, risikonya sangat nyata, erosi, tebing tidak stabil, banjir, dan kerusakan ekosistem laut,” bebernya.
Sementara itu, secara terpisah, Anggota DPRD Badung, I Made Tomy Martana Putra, mengaku mengetahui adanya proyek tersebut setelah menerima informasi dari warga. Saat itu, dia kebetulan sedang berada di sekitar lokasi proyek.
Menurut Tomy, warga setempat menilai proyek tersebut cukup berbahaya. Pasalnya, kawasan Pantai Suluban merupakan ruang hidup sekaligus sumber mata pencaharian masyarakat lokal.
“Yang nanti terdampak kan warga lokal di sana, yang kesehariannya berkecimpung dan mencari nafkah di kawasan itu,” katanya.
Politisi Golkar asal Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan ini melanjutkan, dari informasi yang diterimanya, proyek tersebut rencananya akan digunakan sebagai wedding chapel. Namun, Tomy mempertanyakan kelengkapan perizinan serta kajian teknis proyek tersebut, mengingat di bawah lokasi terdapat goa alami dan kawasan pantai yang biasa digunakan untuk surfing.
“Yang menjadi tanda tanya, izinnya sudah ada atau belum. Di bawahnya ada goa, pantai itu juga biasa dipakai surfing. Apakah sudah ada kajian geologinya? Kalau ngebor tebing, apakah tidak mengganggu aktivitas dan kondisi di lokasi,” tegasnya.
( red)

























