Bali, Surya Indonesia.net – Penantian panjang warga Bali soal Tol Gilimanuk–Mengwi mulai menemukan secercah harapan. Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan proses administrasi krusial megaproyek ini akan berjalan tahun ini, dengan tender dilaksanakan di Kementerian Pekerjaan Umum.
“Tahun ini proses tender di Kementerian PU,” tegas Koster di sela ground breaking Shortcut 9–10 Singaraja–Mengwitani.
Pernyataan ini sontak menjadi angin segar bagi warga, terutama pemilik lahan yang selama ini hidup dalam ketidakpastian akibat status Penetapan Lokasi (Penlok).
Skema Baru, Investor Digenjot
Agar proyek lebih “menjual”, pemerintah menerapkan strategi baru: pembangunan dibagi per segmen.
Segmen I Pekutatan–Soka–Mengwi (42,1 km) jadi prioritas lelang kuartal IV 2026, dengan estimasi investasi Rp11,04 triliun.
Ruas Gilimanuk–Pekutatan yang kurang menarik secara bisnis akan ditopang APBN, demi menjaga konektivitas Bali Barat.
Model yang dipilih DBFOMT dengan masa konsesi hingga 50 tahun—sinyal kuat pemerintah ingin proyek ini benar-benar jalan.
Kejar Waktu, Penlok Hampir Habis
Waktu jadi musuh utama. Penlok di 64 desa Tabanan dan 33 desa Jembrana akan berakhir 7 Maret 2026. Jika studi kelayakan dan desain tak tuntas, risiko ulang dari nol mengintai—Amdal, sosialisasi, hingga pembebasan lahan.
Bukan Sekadar Tol
Tol Jagat Kerthi disiapkan terintegrasi dengan KBS Park di Pekutatan dan Pelabuhan Perikanan Nusantara Pengambengan—mengincar efek ganda ekonomi Bali Barat.
Target Operasi 2029
Linimasa pemerintah: tender akhir 2026, konstruksi 2028, operasi bertahap 2029, rampung penuh 2033.
Kini publik menanti pembuktian: janji jadi realisasi, atau sekadar wacana
( red)

























