Breaking News

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono, dan Politik Tawa

Senin, 5 Januari 2026 - 14:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini:

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono, dan Politik Tawa
Fajar, S

(Seorang Penulis dan Teoretikus Politik)
Videonya viral, dan telah tersebar di hampir semua platform digital dengan jutaan
penonton.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Yang membuatnya menarik dan layak untuk dibicarakan adalah, di saat iklim politik Indonesia semakin bising namun miskin refleksi, pertunjukan stand￾up comedy Mens Rea karya Pandji Pragiwaksono patut dibaca bukan sekadar hiburan, melainkan sebagai praktik intelektual di ruang publik karena komedi—yang kerap direduksi menjadi tontonan ringan—dalam tangan Pandji justru diposisikan sebagai medium untuk membicarakan persoalan yang cukup berat perihal demokrasi, rasionalitas publik, moral politik, dan tanggung jawab kewargaan.

Sesuai dengan judulnya, Mens Rea—istilah hukum yang merujuk pada ‘niat batin’ sebagai unsur penentu kesalahan pidana sejak awal memberi sinyal bahwa kritik yang dihadirkan tidak berhenti pada gejala permukaan.

Yang disasar bukan hanya tindakan politik, melainkan cara berpikir yang melandasinya. Karena itu, Mens Rea layak dinilai melalui lensa filsafat: sebagai praktik etika, sebagai wacana kekuasaan, dan sebagai eksperimen rasionalitas publik.

Dalam etika Aristoteles, tindakan manusia dinilai bukan semata dari akibatnya, melainkan dari niat dan pembentukan karakter (ethos).

Dari sudut pandang ini, komedi Pandji tidak hadir sebagai rangkaian lelucon kosong, melainkan sebagai ekspresi kesadaran moral karena ada kegelisahan yang ingin disampaikan, dan ada tanggung jawab yang ingin dipikul.

Di pertunjukan itu, Pandji tidak berdiri sebagai komedian yang berpura￾pura netral, tapi sebagai subjek etis yang mengambil posisi.

Mens Rea dengan demikian dapat dibaca sebagai tindakan kewargaan: penggunaan tawa untuk menumbuhkan phronesis kebijaksanaan praktis—di tengah masyarakat yang kerap terjebak antara fanatisme politik dan apatisme demokratis.

Namun, persoalan etis muncul ketika komedi berhenti pada rasa “benar”. Jika penonton pulang dengan perasaan telah berada di sisi moral yang tepat, tanpa dorongan untuk menguji diri mereka sendiri, maka komedi kehilangan dimensi etika kebajikan.

Ia berubah dari sarana pembentukan karakter menjadi alat konfirmasi identitas moral-politik penontonnya. Di titik ini, tawa tidak lagi mendidik, tapi sekadar menenangkan.

Jika ditelusuri secara genealogis, komedi politik memiliki akar pada tradisi Sokrates: ironi sebagai metode pembongkaran kepalsuan pengetahuan.

Sokrates tidak menggurui; ia bertanya, memancing kontradiksi, dan membiarkan lawan bicaranya jatuh ke dalam aporia – kebingungan produktif yang membuka jalan menuju kesadaran.

Mens Rea bekerja dengan logika yang serupa. Ia menertawakan absurditas demokrasi, menyingkap kontradiksi perilaku politik, dan menggugat cara berpikir populer yang anti-intelektual.

Dalam banyak bagian, tawa yang muncul bukan tawa lepas, melainkan tawa getir, kecut, dan sinis—tanda bahwa ada sesuatu yang keliru, tetapi selama ini diterima sebagai kewajaran.

Sangat berbeda dengan dialog Sokrates, stand-up comedy adalah monolog. Di sinilah batas filosofis Mens Rea. Ia mampu membuka kesadaran, tetapi tidak menyediakan ruang bagi kebingungan untuk berkembang.

Ironi kerap ditutup dengan kesimpulan, bukan pertanyaan lanjutan. Risiko ini bukan terutama soal niat sang komika, melainkan batas struktural medium stand-up comedy itu sendiri.

Komedi pun berpotensi bergeser dari metode kritis menjadi pedagogi satu arah. Dalam teori ruang publik Jurgen Habermas, demokrasi yang sehat menuntut diskursus rasional yang setara, di mana argumen diuji tanpa dominasi.

Dari sudut ini, Mens Rea memiliki kontribusi penting. Ia membawa isu politik ke ruang yang lebih inklusif, menjembatani bahasa intelektual dengan publik non￾akademik.

Pandji berhasil melakukan apa yang gagal dilakukan banyak institusi pendidikan dan partai politik, yaitu membuat warga mau mendengarkan pembicaraan serius tentang politik.

Dalam pengertian ini, komedi menjadi pintu  masuk menuju rasionalitas publik. Namun secara struktural, pertunjukan ini tetap asimetris.

Komika memegang mikrofon, menguasai panggung, dan alur wacana; penonton hanya bisa tertawa atau diam. Tidak ada mekanisme sanggahan.

Karena itu, Mens Rea adalah ruang publik yang rasional, tetapi belum deliberatif. Ia mendidik, tetapi belum sepenuhnya mendemokratisasi diskursus.

Dari perspektif Marx dan Gramsci, setiap wacana publik selalu berpotensi menjadi alat hegemoni. Bahkan kritik terhadap kekuasaan dapat melahirkan kekuasaan simbolik baru.

Komedi politik kerap memberi penonton sensasi pembebasan, padahal yang terjadi bisa jadi hanya perpindahan posisi ideologis, bukan pembongkaran struktur.

Ketika penonton tertawa dan merasa “lebih sadar” dibanding yang lain—elit, massa, atau kelompok politik tertentu—muncul bahaya moralisme.

Tawa menjadi penanda superioritas kognitif. Di titik ini, Mens Rea berisiko melahirkan intelektualisme tanpa praksis, yakni kritik menjadi tajam ke luar, tetapi tumpul ke dalam.

Pertanyaan reflektif yang kerap terlewat adalah: di mana posisi penonton dalam struktur yang mereka kritik?

Tanpa pertanyaan ini, komedi politik mudah berubah menjadi konsumsi ideologi kelas menengah terdidik—termasuk kritik terhadap komedi politik itu sendiri.

Dalam konteks Mens Rea, Nietzsche melihat tawa sebagai ekspresi daya hidup, yaitu kemampuan manusia menertawakan tragedi tanpa tenggelam di dalamnya.

Dalam pengertian ini, Mens Rea bersifat afirmatif. Ia menolak sinisme dan keputusasaan, mengajak berpikir tanpa kehilangan kegembiraan.

Tapi yang tidak boleh dilupakan, Foucault mengingatkan bahwa setiap wacana selalu berkelindan dengan kekuasaan. Pertanyaan krusialnya adalah siapa yang ditertawakan, dan siapa yang tidak diberi suara?

Jika komedi terlalu sering menertawakan ketidaktahuan publik tanpa membongkar sistem yang memproduksi ketidaktahuan tersebut, maka tawa berisiko berubah menjadi alat disiplin simbolik, bukan emansipasi.

Secara filosofis, Mens Rea adalah upaya serius menjadikan komedi sebagai praktik pencerahan publik. Ia melampaui hiburan, menyentuh etika, politik, dan rasionalitas.

Di tengah masyarakat yang lebih menyukai slogan daripada argumen, upaya ini jelas penting.

Namun justru karena keseriusannya, Mens Rea atau acara serupa perlu terus dikritik termasuk oleh mereka yang merasa tercerahkan olehnya.

Agar tawa tidak berhenti pada rasa benar, agar kesadaran tidak menjelma menjadi identitas baru yang nyaman.

Komedi, seperti halnya filsafat, seharusnya tidak memberi jawaban final, melainkan menyisakan kegelisahan dan membuka kemungkinan berpikir bersama.

Dan menurut hemat saya, Mens Rea adalah tawa yang berpikir—tetapi ia baru akan sepenuhnya politis jika tawa itu juga belajar berpikir secara kolektif—dalam arti, klaim kebenaran dalam materi-materi komedi yang disampaikan Pandji dalam Mens Rea nantinya bisa diuji bersama di sebuah ruang diskusi di luar dirinya—yang mana tulisan ini berikhtiar untuk mendorong perbincangan publik agar menuju ke arah sana.  ***)

Posted: suryaindonesia.net
Malang, 5 Januari 2026

Author: Fajar, AH Seorang Penulis dan Teoretikus Politik

Berita Terkait

DPC PDI Perjuangan Gelar Perayaan Natal, Amithya: Pesan Bung Karno, Indonesia untuk Semua
Bhabinkamtibmas Desa Batannyuh Polsek Marga Sambangi Warga Desa Binaan
Rapat Daring Evaluasi KDKMP Berjalan Lancar, Dandim Badung Dorong Semua Pihak Maksimalkan Peran
Dandim 1611/Badung Lakukan Kunjungan Lapangan, Pantau Pembangunan Koperasi Merah Putih
Wakil Panglima TNI Pimpin Rapat Daring KDKMP, Target 1 Koperasi per Kodim Hingga Januari 2026
Rapat Evaluasi KDKMP Daring Digelar di Badung, Dandim Pantau Progres Pembangunan Langsung
Babinsa Peltu Agung, Berikan Materi Penguatan Karakter di SMA N 2 Abiansemal Dorong Siswa Miliki Potensi Kepemimpinan
258 Siswa Kelas XI SMA N 2 Abiansemal Dapat Materi Kepemimpinan dari Babinsa, Bentuk Generasi Muda Berkualitas

Berita Terkait

Rabu, 7 Januari 2026 - 16:22 WIB

DPC PDI Perjuangan Gelar Perayaan Natal, Amithya: Pesan Bung Karno, Indonesia untuk Semua

Rabu, 7 Januari 2026 - 15:58 WIB

Bhabinkamtibmas Desa Batannyuh Polsek Marga Sambangi Warga Desa Binaan

Rabu, 7 Januari 2026 - 15:55 WIB

Rapat Daring Evaluasi KDKMP Berjalan Lancar, Dandim Badung Dorong Semua Pihak Maksimalkan Peran

Rabu, 7 Januari 2026 - 15:53 WIB

Dandim 1611/Badung Lakukan Kunjungan Lapangan, Pantau Pembangunan Koperasi Merah Putih

Rabu, 7 Januari 2026 - 15:38 WIB

Wakil Panglima TNI Pimpin Rapat Daring KDKMP, Target 1 Koperasi per Kodim Hingga Januari 2026

Rabu, 7 Januari 2026 - 15:26 WIB

Babinsa Peltu Agung, Berikan Materi Penguatan Karakter di SMA N 2 Abiansemal Dorong Siswa Miliki Potensi Kepemimpinan

Rabu, 7 Januari 2026 - 15:24 WIB

258 Siswa Kelas XI SMA N 2 Abiansemal Dapat Materi Kepemimpinan dari Babinsa, Bentuk Generasi Muda Berkualitas

Rabu, 7 Januari 2026 - 15:22 WIB

SMA N 2 Abiansemal Gelar Bimbingan Karakter, Babinsa Ajak Siswa Siap Jadi Pemimpin Masa Depan

Berita Terbaru