Breaking News

JODOH DIANTARA LUKA

Minggu, 6 September 2026 - 14:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JODOH DIANTARA LUKA
Oleh: Kadir Wahyudi

_Surabaya, 1990-an. Rumah kecil di pinggir rel itu dulu disebut “rumah kita”. Catnya mengelupas, tapi di dalamnya ada tawa, beras 5 kilo, dan perut yang makin besar. Sampai suatu sore, seorang perempuan datang menggendong bayi. Dan sejak itu, “rumah” berubah jadi neraka._

Rumah di pinggir rel Surabaya itu kecil. Catnya mengelupas. Tapi dulu Warsih menamainya “rumah kita” setiap kali menyapu halaman.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Junin pulang kerja dari PT. Masphion selalu bawa beras 5 kilo dan cerita tentang mesin yang berisik. Warsih tertawa. Perutnya makin besar. Itu anak keempat mereka.

Sampai suatu sore, seorang perempuan datang. Menggendong bayi umur 3 tahun. Wajahnya mirip Junin.

“Bapaknya anakku,” kata perempuan itu pelan.
Bumi Warsih runtuh.

Ternyata Junin nikah siri. Sama buruh harian satu pabrik juga. Tinggalnya nggak jauh. Masih satu kota. Di Surabaya, kota sebesar ini, semesta bisa sesempit itu.

Pertengkaran pecah malam itu. Teriakan, piring pecah, tetangga mengintip dari pagar. Warsih hamil 7 bulan. Ia tidak menceraikan. Ia hanya diam. Menunggu.

Dua bulan kemudian lahir anak keempat. Laki-laki. Warsih menatapnya lama. Lalu menitipkannya ke ibunya di desa.
“Aku pamit Bu. Aku capek.”

Ia naik bus ke Kalimantan. Tanpa tujuan. Tanpa bekal kecuali kebencian yang membakar dada. “Yang penting jauh dari rumah itu,” gumamnya.

Di Pontianak, hidup tidak lebih murah. Uang habis. Perut lapar lebih jujur daripada harga diri. Akhirnya Warsih masuk ke satu komplek. Jadi pelacur. Satu-satunya cara _to survive_ yang ia tahu saat itu.

Tiga tahun. Tiga tahun ia tidur dengan laki-laki asing demi makan dan kirim uang untuk anaknya.

Sampai suatu malam, pintunya diketuk. Yang masuk tetangganya sendiri dari Surabaya. Laki-laki yang dulu sering main catur di teras “rumah itu”.

Warsih kaget. Tapi ia tetap tersenyum profesional.
“Sampeyan ngapain di sini Pak?”
“Cuma jajan. Penat.”

Sebelum pulang, Warsih memberanikan diri. “Anak-anak… sama Junin gimana?”
“Junin? Udah keluar dari Masphion. Sekarang ikut proyek perumahan di sini. Di mess daerah Sungai Jawi.”

Malam itu juga Warsih dandan seadanya. Ia tidak rindu. Ia butuh uang. Ia butuh kepastian.

Mess proyek itu berisik. Junin keluar dengan kaos oblong dan celana pendek. Kurus. Lebih tua. Matanya membesar melihat Warsih.

“Warsih?”
Junin tidak memeluk. Ia hanya mengeluarkan dompet dan menyodorkan uang. “Ini. Cukup sebulan ya. Maaf.”

Warsih menerima. Dingin.

Tapi tiga bulan itu aneh. Junin sering datang. Bukan untuk “jajan”. Ia duduk di kursi plastik. Cerita tentang proyek. Tentang anak-anak di Jawa. Tentang rasa bersalah yang tidak pernah selesai.

Kebencian Warsih perlahan menipis. Seperti karat yang digosok air mata. Pertemuan demi pertemuan membuat luka itu jadi ruang lain. Ruang bernama kangen.

“Pulangkah kita?” bisik Junin suatu malam. “Tinggalkan semua ini. Aku udah putus sama dia. Demi anak-anak.”

Warsih diam lama. Orang Jawa bilang, jodoh memang aneh. Bisa patah, bisa ketemu lagi di tempat paling tidak mungkin.

Enam tahun setelah ia pergi dari “rumah itu”, mereka pulang bersama ke Surabaya.

Rumahnya masih ada. Catnya masih mengelupas. Anak-anak sudah besar. Anak keempat memanggil “Bapak” dengan canggung di awal, lalu lari memeluk.

Malam pertama di rumah itu, Warsih dan Junin duduk di teras. Tidak banyak bicara.

“Capek ya,” kata Junin.
Warsih mengangguk. “Rumah ini pernah jadi neraka. Tapi ternyata… masih bisa jadi rumah lagi.”

Angin dari arah rel lewat pelan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Warsih merasa tidak ingin lari lagi.

Karena cinta itu, ternyata, masih di sana. Menunggu di antara tembok yang retak.

__ Cerpen ini fiksi. Nama, tempat dan kejadian adalah ilustrasi penulis.__

Sidoarjo, 6 September 2026

*TAMAT*

Berita Terkait

DMI Kabupaten Probolinggo Perkuat Pemahaman Islam Rahmatan Lil Alamin
Kapolri Suyudi Membrutal, 19 Kapolda Dicopot Langsung Kena Mental
Kinerja Polres Tabanan di pertanyakan, Kenapa Tajen dan Bola adil semakin marak di Tabanan. Kapolres seakan tutup Mata. Ada apa…??
Ketahui Kewajiban Bayar BPHTB dan PPh dalam Transaksi Jual Beli Tanah di Kabupaten Tabanan
Babinsa Jegu Kawal Pitra Yadnya, Arus Lalu Lintas di Banjar Sigaran Tetap Terkendali 
DLH Kabupaten Probolinggo Mulai Verifikasi 26 Calon Sekolah Adiwiyata
Ketua DPD Partai Golkar Oka Mahendra Jati Kusuma,SE. Nyapa  Langsung Temui Warga, AMPG Kabupaten  Probolinggo
Polres Bandara Ngurah Rai Gelar Kenal Pamit Pejabat dan Purnabakti

Berita Terkait

Minggu, 4 Oktober 2026 - 23:18 WIB

DMI Kabupaten Probolinggo Perkuat Pemahaman Islam Rahmatan Lil Alamin

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:25 WIB

Kapolri Suyudi Membrutal, 19 Kapolda Dicopot Langsung Kena Mental

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:13 WIB

Kinerja Polres Tabanan di pertanyakan, Kenapa Tajen dan Bola adil semakin marak di Tabanan. Kapolres seakan tutup Mata. Ada apa…??

Minggu, 4 Oktober 2026 - 16:27 WIB

Ketahui Kewajiban Bayar BPHTB dan PPh dalam Transaksi Jual Beli Tanah di Kabupaten Tabanan

Minggu, 4 Oktober 2026 - 16:24 WIB

Babinsa Jegu Kawal Pitra Yadnya, Arus Lalu Lintas di Banjar Sigaran Tetap Terkendali 

Minggu, 4 Oktober 2026 - 15:51 WIB

DLH Kabupaten Probolinggo Mulai Verifikasi 26 Calon Sekolah Adiwiyata

Minggu, 4 Oktober 2026 - 15:14 WIB

Ketua DPD Partai Golkar Oka Mahendra Jati Kusuma,SE. Nyapa  Langsung Temui Warga, AMPG Kabupaten  Probolinggo

Minggu, 4 Oktober 2026 - 10:55 WIB

Polres Bandara Ngurah Rai Gelar Kenal Pamit Pejabat dan Purnabakti

Berita Terbaru

Serba-Serbi

Kapolri Suyudi Membrutal, 19 Kapolda Dicopot Langsung Kena Mental

Minggu, 4 Okt 2026 - 17:25 WIB