Denpasar, Surya Indonesia.net – Isu kesehatan mental dan budi pekerti kembali menjadi sorotan di tengah perubahan gaya hidup modern masyarakat Bali. Coach & Educator, Jero Jemiwi, menegaskan bahwa pembentukan karakter anak harus dimulai dari diri sendiri dan keluarga sebagai “sekolah pertama” bagi setiap individu. Menurutnya, dalam diri setiap orang masih terdapat sisi inner child yang membutuhkan ruang aman untuk dipahami dan diterima apa adanya, tanpa memandang usia.
Ia menjelaskan bahwa masa kanak-kanak, khususnya usia 0–10 tahun, merupakan fase penting dalam perkembangan otak. Pada fase ini, anak belum memiliki kemampuan berpikir kritis yang matang, sehingga lebih mudah menyerap nilai, norma, dan perilaku dari lingkungan terdekat. “Kondisi gelombang otak anak masih sangat reseptif, sehingga teladan dari orang tua menjadi faktor utama dalam membentuk karakter mereka,” ungkapnya.
Namun, dalam dua dekade terakhir, perubahan gaya hidup modern yang disebut sebagai era distraksi turut mempengaruhi pola pengasuhan. Paparan media sosial yang berlebihan sejak usia dini dinilai dapat memicu lonjakan dopamin yang berisiko menimbulkan kecanduan, serupa dengan berbagai bentuk adiksi pada orang dewasa. Kondisi ini diperparah dengan kurangnya kedekatan emosional antara anak dan orang tua akibat keterbatasan waktu.
Jero Jemiwi menekankan pentingnya orang tua untuk “pulang ke diri” dan menjadi versi terbaik dari dirinya. Melalui konsep Self Love Mulih Luwih, ia mengajak masyarakat untuk mengambil kembali tanggung jawab, memperkuat kesadaran diri, serta menanamkan nilai-nilai kehidupan melalui keteladanan nyata dalam keseharian.
(Irn)

























