Nasional work, Surya Indonesia.net – Realitas Pahit Dunia Media Jangan pernah terlalu naif membayangkan bahwa dunia media secara keseluruhan akan sepenuhnya berjalan lurus sesuai kode etik, apalagi menjalankan fungsi kontrolnya secara murni dan tanpa kepentingan. Ideal itu memang indah untuk didengar, tetapi dalam praktiknya sering kali jauh dari kenyataan.
Selama setiap individu dan perusahaan media masih berada di bawah bayang-bayang “tuannya” masing-masing entah itu pemilik modal, kekuasaan, atau kepentingan tertentu maka independensi hanya akan menjadi slogan yang sering dikutip, tetapi jarang benar-benar dijalankan. Ketika loyalitas lebih besar kepada kepentingan di belakang layar daripada kepada publik dan kebenaran, maka garis antara jurnalisme dan kepentingan akan terus kabur.
Yang lebih ironis, di dalam tubuh dunia media itu sendiri sering terjadi pertarungan yang tak terlihat publik. Bukan hanya soal siapa yang paling benar menyuarakan fakta, tetapi juga siapa yang paling kuat mempertahankan pengaruh. Saling serang, saling menjegal, bahkan berusaha menutup ruang bagi lahirnya insan media dan perusahaan media baru semua dibungkus dengan berbagai alasan yang terdengar ideal. Padahal sejatinya, setiap media dan setiap jurnalis juga lahir dari sebuah proses panjang.
Alih-alih saling menguatkan untuk menjaga marwah profesi, yang terjadi justru kompetisi yang kadang melampaui batas etika itu sendiri.
Ironi yang pahit: mereka yang berbicara tentang kode etik, terkadang justru paling keras menutup pintu bagi yang baru belajar berjalan di dunia yang sama. Jadi jangan terlalu bermimpi bahwa semuanya akan berubah menjadi bersih dan ideal.
Realitasnya jauh lebih kompleks, lebih keras, dan kadang lebih sinis dari yang dibayangkan.
Dan kita semua sebenarnya tahu itu. Kita melihatnya, merasakannya, bahkan menjadi saksi setiap hari.
Inilah wajah dunia media yang jarang diakui secara terbuka: penuh idealisme di permukaan, tetapi sarat kepentingan di balik layar. Mana yang namanya Ediologi dan Edialisme bagi para jurnalisme. Yang ada hanya persekusi dan intimidasi bagi para jurnalistik.
( red)

























