Karangasem, Surya Indonesia.net – Di jalur Selat – Sidemen – Klungkung, jalan bukan lagi sekadar rusak Ini sudah berubah menjadi jalur maut.
Lubang menganga di mana-mana.
Aspal hancur.
Truk pasir dan batu melintas tanpa henti — besar, berat, dan sering over tonase.
Dan di tengah semua itu…
yang jadi korban adalah rakyat kecil.
Pengendara motor jatuh.
Terserempet.
Bahkan ada yang tidak pernah sampai ke rumah.
Ini bukan kecelakaan biasa mana ada toleransi perintah melihat ini.
Ini adalah kelalaian yang dibiarkan terus berulang ulang tanpa ditangani.
Sementara itu Bupati Kabupaten Karangasem berserakan jajarannya mendapatkan retribusi aktif dari aktivitas galian C.
Uang masuk apakah di setor ke dinas Pendapatan daerah dan jalan atau uang retribusi hanya masuk ke kantong masing-masing para penguasa jabatan.
Ini hanya pertanyaannya sederhana:
Kenapa jalan yang hancur tidak segera diperbaiki?
Kenapa yang menanggung risiko justru masyarakat di jalur lintasan?
Ini bukan lagi soal infrastruktur.
Ini soal keadilan.
– Yang ambil keuntungan, bukan yang menanggung kerusakan.
– Yang menikmati hasil, bukan yang kehilangan nyawa.
Kalau retribusi itu benar untuk rakyat,
maka rakyat berhak melihatnya kembali dalam bentuk jalan yang aman, bukan jalan kematian.
Jangan tunggu korban berikutnya.
Jangan tunggu viral baru bergerak.
Negara seharusnya hadir sebelum nyawa melayang,
bukan setelahnya.
Kalau jalan ini terus dibiarkan rusak,
maka setiap lubang di aspal itu adalah
tanda bahwa nyawa manusia dianggap lebih murah dari pasir dan batu.
( red ) – Surya Indonesia. Net

























