Pacitan – Surabaya , Surya Indonesia.net — Sebuah kisah penuh haru dan inspirasi datang dari 12 jamaah umroh Samira Travel asal Pacitan yang berhasil mewujudkan impian suci mereka menuju Tanah Haram. Dengan latar belakang sederhana sebagai petani, peternak, guru, nelayan, hingga pedagang, mereka membuktikan bahwa panggilan ke Baitullah bukan tentang siapa yang paling mampu, tetapi siapa yang paling bersungguh-sungguh.
Perjalanan ibadah ini berlangsung pada 20 Januari hingga 1 Februari 2026. Dengan penuh semangat dan harapan, rombongan kecil dari desa ini berangkat menembus batas jarak dan keterbatasan, menuju Makkah dan Madinah — dua kota suci yang menjadi dambaan setiap Muslim.
Di balik perjalanan tersebut, ada kisah yang begitu menyentuh dari salah satu jamaah, Mbah Karim (76 tahun). Di usia senjanya, beliau akhirnya mampu menunaikan ibadah umroh bersama sang istri setelah menabung selama 9 tahun sejak 2017. Dari hasil kerja keras yang sederhana, sedikit demi sedikit disisihkan, hingga akhirnya Allah bukakan jalan menuju Tanah Suci.
“Alhamdulillah, saya tidak menyangka bisa sampai di sini. Ini semua karena pertolongan Allah,” ungkap Mbah Karim dengan mata berkaca-kaca.
Perjalanan spiritual ini dibimbing oleh Ustadz Nafi’ Unnas, yang dikenal sebagai Pembimbing Umroh Samira Travel Jawa Timur, dosen Bahasa Arab di UIN Sunan Ampel Surabaya, serta alumni Pondok Modern Darussalam Gontor. Dengan penuh kesabaran dan kehangatan, beliau mendampingi para jamaah agar dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk dan sesuai tuntunan.
Menurut beliau, perjalanan ini bukan sekadar ibadah fisik, tetapi juga perjalanan hati. “Banyak dari jamaah ini berasal dari latar belakang sederhana, namun mereka memiliki keikhlasan dan kesungguhan luar biasa. Inilah yang menjadi kunci utama sampai ke Tanah Suci,” tuturnya.
Kisah 12 jamaah asal Pacitan ini menjadi bukti nyata bahwa impian besar bisa diraih dengan tekad, doa, dan kesabaran. Dari desa yang jauh dari hiruk pikuk kota, mereka melangkah pasti menuju pusat peradaban Islam, membawa harapan, doa, dan cinta kepada Allah SWT.
Perjalanan “Dari Desa Menuju Makkah Madinah” ini bukan hanya tentang jarak yang ditempuh, tetapi tentang perjuangan panjang, keyakinan yang tak goyah, dan bukti bahwa setiap niat baik akan menemukan jalannya.
(Redho)

























