Breaking News

Di Persimpangan Jalan Idealisme dan Realistis, Tetaplah di Garis Marhaen GMNI

Senin, 23 Maret 2026 - 07:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Surya Indonesia.net – Memperingati 72 tahun berdirinya Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), kita tidak sekadar mengenang usia organisasi melainkan juga merefleksikan perjalanan panjang perjuangan ideologis yang telah ditempuh. GMNI lahir dari rahim sejarah perjuangan bangsa, sebagai alat revolusi yang berakar pada ajaran Marhaenisme yaitu sebuah ideologi yang berpihak pada rakyat kecil, kaum tertindas, dan seluruh elemen yang dimarjinalkan oleh sistem yang tidak adil. GMNI berdiri secara resmi pada 23 Maret 1954. Pembentukan ini merupakan hasil fusi (penggabungan) dari tiga organisasi mahasiswa yang sebelumnya memiliki kesamaan ideologi juga cara pandang gerakan yaitu Gerakan Mahasiswa Marhaenis di Yogyakarta, Gerakan Mahasiswa Merdeka di Surabaya

dan Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia diJakarta. Fusi ini dilakukan untuk menyatukan kekuatan mahasiswa nasionalis dalam satu wadah perjuangan yang lebih solid dan terorganisir, terutama dalam menghadapi dinamika politik pasca-kemerdekaan Indonesia.

GMNI yang sudah teruji oleh zaman dan tak lekang oleh waktu. Rongrongan baik dari pihak eksternal maupun internal GMNI sekalipun dalam orientasi pandang yang berbeda dari berbagai motif tetapi tidak cukup mampu untuk meruntuhkan ketahanan gerakan ini karena fondasi awal pendirian gerakan ini sudah jelas. Mewadahi mahasiswa untuk setia terhadap marhaenisme juga ajaran Bung Karno, menjadikannya pisau analisis untuk menemukan problem solving yang kesemua itu berorientasi kepada satu cita-cita besar yaitu mewujudkan sosialisme di Indonesia. Sejarah GMNI adalah sejarah keberanian dan keberpihakan. Dalam masa awal kemerdekaan hingga era Demokrasi Terpimpin, GMNI tampil sebagai kekuatan mahasiswa yang aktif mengawal semangat anti-imperialisme, anti-kolonialisme, dan keadilan sosial. GMNI menjadi bagian dari dinamika politik nasional yang memperjuangkan gagasan besar seperti Nasakom, serta berperan dalam membangun kesadaran politik mahasiswa untuk berpihak kepada rakyat.
Namun perjalanan sejarah tidak selalu berjalan mulus. Pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965, GMNI menghadapi tekanan politik yang luar biasa di bawah rezim Soeharto. Terjadi fragmentasi internal, pembatasan ruang gerak, dan upaya depolitisasi organisasi mahasiswa. Dalam situasi tersebut, GMNI tetap bertahan sebagai organisasi kader dengan menjaga api ideologi Marhaenisme, meskipun dalam ruang yang terbatas.
Memasuki era Reformasi 1998, GMNI kembali menemukan momentumnya. Runtuhnya rezim Orde Baru membuka ruang bagi kebebasan berorganisasi sekaligus menuntut GMNI untuk melakukan konsolidasi ideologi dan gerakan. GMNI kembali aktif dalam mengawal isu-isu demokrasi, keadilan sosial, serta perjuangan rakyat di tengah arus globalisasi dan kapitalisme yang semakin kuat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun dalam situasi saat ini bangsa Indonesia tengah menghadapi berbagai tantangan serius. Ketimpangan sosial-ekonomi masih nyata, demokrasi menghadapi ujian kualitas, dan praktik-praktik kekuasaan kerap menjauh dari semangat kerakyatan. Di sisi lain, arus globalisasi dan kapitalisme yang semakin masif telah mendorong lahirnya pola pikir pragmatis yang kerap menggerus nilai-nilai idealisme.

Ditengah situasi tersebut, generasi muda termasuk mahasiswa berada dipersimpangan jalan. Ada tuntutan untuk bersikap realistis dalam menghadapi dunia modern, namun juga ada tanggung jawab historis untuk tetap menjaga idealisme perjuangan. Inilah tantangan utama kader GMNI hari ini. Oleh karena itu, GMNI harus hadir sebagai penuntun arah dan GMNI tidak boleh larut dalam pragmatisme yang mengorbankan ideologi. Tidak boleh pula terjebak dalam romantisme sejarah tanpa relevansi juga GMNI harus berdiri tegak sebagai organisasi kader yang progresif, adaptif, dan tetap berakar kuat pada marhaenisme.

Sikap GMNI harus jelas:

1. Meneguhkan kembali Marhaenisme sebagai landasan berpikir dan bergerak dalam menjawab persoalan rakyat.

2. Mengawal demokrasi dan keadilan sosial, serta berani mengkritik setiap kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat.

3. Membangun kader progresif-revolusioner yang memiliki ketajaman intelektual dan keberpihakan ideologis.

4. Menjadi pelopor gerakan pemuda yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.

Dies Natalis ke-72 ini harus menjadi momentum konsolidasi ideologi dan gerakan. GMNI harus tetap menjadi organisasi yang tajam dalam analisis, kuat dalam perjuangan, dan konsisten berpihak kepada rakyat. Mengingatkan kembali.apa yang pernah disampaikan oleh Bung Karno bahwasanya kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup dimasa pancaroba jadi tetaplah bersemangat elang rajawali.

( red)

Berita Terkait

Ketua KAKI Jatim Menilai Advokat Wahyu Suhartatik Berkolusi Dengan Polisi Mojokerto Demi Kepentingan Pribadi
Sinergitas Polsek Gianyar Amankan Upacara Ngaben, Wujudkan Kamtibmas Kondusif
*Hadir di Tengah Aktivitas Masyarakat di Siang Hari, Personel Polsek Pupuan Gelar Strong Point di Titik Rawan Kepadatan Kendaraan*  
Bhabinkamtibmas Desa Singakerta Sambangi Warga Binaan Sampaikan Pasan Kamtibmas
*Sinergi Bhabinkamtibmas Desa Bajera, Amankan Prosesi Pernikahan Warga*
Polsek Gianyar Pantau Kunjungan Wisatawan di Suwat Waterfall, Situasi Tetap Kondusif
*Bhabinkamtibmas Desa Munduktemu Dampingi Pemberian Sertifikat Siap Nikah dan Hamil (Semara Ratih) Program Pemerintah Kabupaten Tabanan*
Polda Bali Gelar Kenal Pamit Karo SDM dan Dirintelkam Polda Bali Tegaskan Keberlanjutan Pengabdian

Berita Terkait

Kamis, 26 Maret 2026 - 18:22 WIB

Ketua KAKI Jatim Menilai Advokat Wahyu Suhartatik Berkolusi Dengan Polisi Mojokerto Demi Kepentingan Pribadi

Kamis, 26 Maret 2026 - 18:19 WIB

Sinergitas Polsek Gianyar Amankan Upacara Ngaben, Wujudkan Kamtibmas Kondusif

Kamis, 26 Maret 2026 - 18:18 WIB

*Hadir di Tengah Aktivitas Masyarakat di Siang Hari, Personel Polsek Pupuan Gelar Strong Point di Titik Rawan Kepadatan Kendaraan*  

Kamis, 26 Maret 2026 - 18:17 WIB

Bhabinkamtibmas Desa Singakerta Sambangi Warga Binaan Sampaikan Pasan Kamtibmas

Kamis, 26 Maret 2026 - 18:16 WIB

*Sinergi Bhabinkamtibmas Desa Bajera, Amankan Prosesi Pernikahan Warga*

Kamis, 26 Maret 2026 - 18:13 WIB

*Bhabinkamtibmas Desa Munduktemu Dampingi Pemberian Sertifikat Siap Nikah dan Hamil (Semara Ratih) Program Pemerintah Kabupaten Tabanan*

Kamis, 26 Maret 2026 - 18:12 WIB

Polda Bali Gelar Kenal Pamit Karo SDM dan Dirintelkam Polda Bali Tegaskan Keberlanjutan Pengabdian

Kamis, 26 Maret 2026 - 18:10 WIB

*Kapolsek Baturiti Laksanakan Kunjungan Kamtibmas ke Kantor Desa Perean*

Berita Terbaru