Bali, Surya Indonesia.net – Jum’at, 20 Maret 2026. Hari Raya Nyepi sejatinya adalah momen paling sakral bagi umat Hindu di Bali. Sebuah hari untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, melakukan introspeksi, serta menyucikan diri lahir dan batin melalui pelaksanaan Catur Brata Penyepian: Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan.
Namun sangat disayangkan, di tengah kesucian hari tersebut, justru masih ada semeton umat yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga adat, budaya, dan agama, malah mempertontonkan hal-hal yang tidak pantas. Di hari yang seharusnya dipenuhi keheningan dan pengendalian diri, malah ada yang melakukan siaran langsung di media sosial sambil makan-makan, bercanda, bahkan memperlihatkan aktivitas yang jelas bertentangan dengan makna Nyepi itu sendiri.
Perilaku seperti ini bukan hanya sekadar pelanggaran etika, tetapi juga mencederai nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur. Nyepi bukan sekadar hari libur atau tradisi tahunan yang dijalankan secara formalitas. Nyepi adalah simbol pengendalian diri, kesadaran spiritual, dan penghormatan terhadap harmoni alam semesta.
Ironisnya, ketika dunia luar begitu menghormati dan mengagumi keunikan Nyepi di Bali—bahkan menjadikannya inspirasi tentang bagaimana manusia bisa hidup selaras dengan alam—justru sebagian dari kita yang lahir dan besar dalam budaya ini yang meremehkan maknanya.
Sudah sepatutnya kita kembali merenungkan esensi Nyepi. Menjaga kesakralannya bukan hanya tugas pecalang, desa adat, atau tokoh agama, tetapi tanggung jawab seluruh umat. Karena ketika kita sendiri tidak mampu menghormati hari suci kita, maka perlahan kita juga sedang mengikis jati diri dan warisan budaya yang seharusnya kita jaga bersama.
( red)

























