
BADUNG, Surya Indonesia.net – su reco (Sustainable & Resilience Co) menggelar workshop bertajuk “Regenerative Pathways for Sustainable Change: Waste, Agroforestry, and Bioeconomy Nexus” pada Rabu (18/2/2026) di Pererenan, Bali. Kegiatan ini dihadiri perwakilan DLHK Badung, aktivis lingkungan, akademisi, dan pengelola sampah.
Perusahaan berbasis Bali yang didirikan Prof. Dr. Takama asal Jepang ini fokus pada agroforestry, energi terbarukan, dan adaptasi iklim. Salah satu inovasinya adalah Bio Fighter, gas cair berteknologi EPN yang mampu melepaskan mikroorganisme secara massal.
Bio Fighter dapat mengurai sampah organik menjadi kompos dalam waktu sekitar dua bulan tanpa menimbulkan bau maupun lalat. Selain itu, produk ini juga diklaim aman bagi tanaman dan mampu mengurangi penggunaan bahan kimia. Satu liter Bio Fighter disebut dapat mengolah hingga satu ton sampah organik.
Ketua BUMDes dan Lembaga Pengelola Hutan Desa Wanagiri, I Made Darsana, menyambut baik inovasi ini karena desanya menjadi sumber air bagi tujuh desa lain sehingga praktik pertanian harus organik agar tidak mencemari sumber air.
Bio Fighter kini telah digunakan selama setahun di TPST dan PDU Mengwi Tani, Badung. Dari total sampah yang masuk, sekitar 20 persen diolah menjadi kompos dengan kapasitas produksi mencapai 17 ton per hari.
(Irn)

























