
Bali — Terkait isu yang berkembang mengenai Ogoh-Ogoh dari Banjar Anyar, Bali, Bapak Semara Putra menyampaikan klarifikasi dalam wawancara bersama Wartawan Surya Indonesia. Klarifikasi ini bertujuan untuk meluruskan sejumlah klaim publik sekaligus menegaskan konteks budaya yang melatarbelakangi karya tersebut.
Dalam penjelasannya, Bapak Semara Putra menegaskan bahwa Ogoh-Ogoh merupakan bagian dari tradisi masyarakat Bali yang sarat nilai simbolik dan filosofis. Karena itu, kreativitas dalam pembuatannya harus tetap berlandaskan pada penghormatan terhadap adat dan kearifan lokal, sembari tetap relevan dengan dinamika sosial yang berkembang saat ini.
Beliau juga menekankan pentingnya dialog terbuka antar komunitas guna menghindari kesalahpahaman terhadap simbol dan pesan yang disampaikan melalui karya Ogoh-Ogoh. “Dialog menjadi kunci agar nilai-nilai budaya tetap terjaga tanpa menimbulkan tafsir yang keliru maupun tindakan yang dapat merugikan kerukunan antar warga,” ujarnya kepada Wartawan Surya Indonesia.
Sejalan dengan narasi budaya tersebut, referensi terhadap Adi Parwa dalam kisah Samudramanthana dan kemunculan kuda putih Uchaisrawa diangkat sebagai simbol kebebasan dan keberanian menyuarakan pendapat. Karya WAJI PINARBUTAN dimaknai sebagai refleksi dari warisan leluhur yang menginspirasi seni kontemporer, di mana kuda putih bersayap melambangkan kebebasan berekspresi dan ringkikannya menjadi simbol suara lantang rakyat.
Namun demikian, disadari bahwa kebebasan berpendapat kerap menghadapi tantangan ketika bersinggungan dengan kepentingan yang mengatasnamakan publik. Oleh sebab itu, diperlukan pendekatan yang berimbang antara ekspresi budaya dan perlindungan hak-hak warga demi menjaga keharmonisan sosial.
Rilis ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih utuh dan proporsional kepada masyarakat terkait isu Ogoh-Ogoh Banjar Anyar, sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam merawat dan menghormati warisan budaya Bali.
(Irn)

























