
Ngawi,Suryaindonesia.net – Guru sering disebut pahlawan tanpa tanda jasa yang membentuk generasi penerus bangsa yang cerdas dan berpotensi. Namun, insiden dugaan kecurangan dalam lomba festival competition di MI Al Falah, Desa Kartoharjo, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, justru menimbulkan kekecewaan. Seorang wali murid dari TK Dharma Wanita merasa anaknya didiskriminasi akibat keputusan panitia yang diduga memihak.
NR, wali murid yang anaknya mengikuti lomba karpet terbang, menyatakan kekecewaannya atas dugaan kolusi guru dan panitia dalam pemilihan pemenang perwakilan sekolah. “Mereka sejak awal mengusung nomor 5 sebagai pemenang,” ungkap NR saat ditemui wartawan.
Menurut NR, panitia sempat mengumumkan nomor 31 (anaknya) sebagai pemenang, tapi kemudian mendiskualifikasinya tanpa pemberitahuan atau konfirmasi. “Anak saya diumumkan ulang untuk lomba, tapi tiba-tiba didiskualifikasi.Saya merasa diperlakukan berbeda, seolah tak dikenal,” tambahnya.
NR menegaskan bahwa aturan lomba telah disampaikan secara terbuka oleh guru MI Al Falah sebagai juri: peserta dilarang dibantu orang tua atau pendamping, jika melanggar maka didiskualifikasi. “Panitia tahu saya tidak membantu, tapi tetap memilih nomor 5 yang diusung. Ini keputusan tidak profesional,” katanya.
Ketika mengonfirmasi ke kepala sekolah (kepsek), NR justru mendapat tanggapan yang dianggap memihak. Akibatnya, ia berencana membawa kasus ini ke dinas Kemenag terkait untuk penyelidikan lebih lanjut. Hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah belum memberikan keterangan resmi.(red)

























