Denpasar, Surya Indonesia.net – Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di Kota Denpasar dipastikan tidak diwarnai festival besar seperti tahun-tahun sebelumnya. Festival Imlek besar hanya akan digelar dua tahun sekali sesuai arahan Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara.
Hal tersebut disampaikan Ketua Pembina Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Bali dan IKBS Sudiarta Indrajaya, Senin (2/2). Menurut Sudiarta, keputusan ini mengikuti arahan Walikota Denpasar agar festival Imlek skala besar dilaksanakan dua tahun sekali. Meski demikian, nuansa Imlek tetap dihadirkan melalui pemasangan lampion dan berbagai kegiatan sosial yang digelar sepanjang perayaan.
“Festival besar memang tidak digelar tahun ini. Namun kami tetap memasang lampion sebagai penanda Imlek, meskipun jumlahnya tidak sebanyak saat festival,” ujarnya.
Lampion akan dipasang di sepanjang Jalan Gajah Mada dan kawasan Pasar Badung, dengan jumlah sekitar 500-an unit. Jumlah ini lebih sedikit dibandingkan tahun festival yang biasanya mencapai sekitar 1.500 lampion lengkap dengan panggung hiburan dan pasar kuliner.
Sebagai gantinya, rangkaian Imlek tahun ini diisi dengan kegiatan sosial, di antaranya senam massal, donor darah, serta pelayanan kesehatan gratis yang akan digelar pada 15 Februari 2026 di Lapangan Puputan Badung. Selain itu, syukuran Imlek direncanakan berlangsung pada 20 Februari 2026 disertai dialog budaya yang menjadi agenda rutin setiap perayaan Imlek.
Sudiarta atau sering dipanggil Sin, menjelaskan dialog budaya tahun ini akan mengangkat tema sejarah dan makna Barongsai, khususnya keterkaitannya dengan tradisi Barong di Bali. Sejumlah budayawan dan akademisi direncanakan diundang untuk menggali akar sejarah akulturasi budaya Tionghoa dan Bali.
( red)

























