BALI – Denpasar,Surya Indonesia. Net – Dalam rangka mendukung Program Swasembada Pangan Tahun 2026, Pasiter Kodim 1611/Badung Mayor Arh Made Artha, mengikuti rapat koordinasi pencapaian Swasembada Pangan. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Ozary Kantor Kanwil Bulog Bali dipimpin langsung oleh Kepala Kanwil Bulog Bali, dengan fokus pada penyusunan strategi dan langkah-langkah konkret untuk mencapai target nasional di sektor pangan. Kamis, (22/01/2026).
Berbagai pihak terkait turut hadir dalam rapat koordinasi ini, antara lain Pabandya Komsos Sterdam IX/Udy, Pasibinwanwil Siterrem 163/WSA, para Pasiter Kodim se-Jajaran Korem 163/WSA, Asisten Manager Pengadaan Komoditas Bulog Kanwil Bali, serta seluruh jajaran Biro Pelaksana Daerah Bulog Kanwil Bali. Kehadiran berbagai unsur ini menunjukkan komitmen bersama dalam mendukung program swasembada pangan yang menjadi prioritas pembangunan nasional.
Dalam sambutan pembukaannya, Kepala Kanwil Bulog Bali menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kerja sama sinergis antara TNI dan Bulog yang telah memberikan kontribusi signifikan. “Berkat kolaborasi tersebut, target swasembada pangan Tahun 2025 sebesar 3 juta ton berhasil tercapai. Untuk Tahun 2026, pihaknya menetapkan target yang lebih ambisius yaitu 4 juta ton,” pungkasnya. Rapat kali ini bertujuan untuk membahas secara mendalam rencana kerja, program implementasi, serta mencari solusi komprehensif atas permasalahan yang muncul pada tahun sebelumnya.
Dalam kesempatan tersebut, Pasiter Kodim 1611/Badung Mayor Arh Made Artha, menyampaikan dukungan penuh terhadap program swasembada pangan nasional, yang diutarakan sebagai wujud nyata untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Selain itu, juga dilaporkan bahwa “penyaluran Pangan Harga Pasar Terjangkau (SPHP) Tahun 2025 mencapai angka signifikan yaitu 9 ribu ton atau sebesar 46%, yang menjadi capaian tertinggi dalam kurun waktu 3 tahun terakhir,” ujarnya.
Rapat juga membahas beberapa kendala utama yang dihadapi dalam pelaksanaan program. Di antaranya masih ditemukan kasus petani yang menjual hasil panen kepada tengkulak dengan harga yang tampaknya lebih tinggi namun memiliki potongan tersembunyi. Selain itu, terdapat kekurangan tenaga pemanen di Bali yang sebagian besar harus diambil dari luar pulau, data panen jagung yang dilaporkan tidak sesuai dengan kondisi aktual di lapangan, preferensi masyarakat Bali yang lebih cenderung memilih konsumsi beras premium, serta sebagian Penerima Bantuan Pangan (PBP) yang enggan mengambil bantuan akibat faktor jarak tempuh yang jauh.
Para peserta rapat sepakat untuk melakukan langkah-langkah korektif dan memperkuat koordinasi antar instansi guna mengatasi berbagai kendala tersebut. Diharapkan dengan kerja sama yang lebih erat dan strategi yang tepat, target swasembada pangan Tahun 2026 dapat tercapai dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya.
( red)

























