
Ngawi,Suryaindonesia.net-Kabupaten Ngawi dikenal memiliki sumber daya manusia unggul yang mendorong tata kelola pemerintahan prima. Muhammad Taufik Agus Susanto menjadi salah satu pilar utama di balik capaian Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) predikat A (Excellent) berturut-turut sejak 2019 hingga 2025. Ironisnya, kini Taufik mendekam di balik jeruji besi akibat dakwaan dugaan korupsi dana hibah Dinas Pendidikan Kabupaten Ngawi tahun anggaran 2022 senilai Rp18.051.195.000.
Taufik, yang telah pindah dari Dinas Pendidikan sejak September 2021, didakwa jaksa atas keterlibatan dalam pengelolaan dana tersebut. Namun, persidangan mengungkap bahwa ia tidak menerima satu rupiah pun dari dana itu. Majelis hakim pun menolak dakwaan jaksa karena kurangnya bukti kuat, meski proses hukum masih berlanjut.
Lonjakan Prestasi SAKIP: Dari CC ke A
Perjalanan SAKIP Ngawi dimulai pada 2018 dengan predikat CC (Cukup) nilai 51,80, melonjak menjadi BB (Baik Sekali) 70,03 di tahun yang sama—capaian langka yang hanya diraih tiga kabupaten di Indonesia: Ngawi, Banggai, dan Bondowoso. Tahun 2019, Ngawi langsung tembus predikat A (80,02) dan mempertahankannya hingga 2025. Pencapaian ini mendatangkan Dana Insentif Daerah (DID) Rp8,9 miliar dari pemerintah pusat, sekaligus dasar Tunjangan Penghasilan Pegawai (TPP) bagi ribuan ASN Ngawi hingga kini.
Capaian tersebut mendapat apresiasi Deputi Reformasi Birokrasi Kementerian PANRB saat itu, Muhammad Yusuf Ateh—kini Kepala BPKP RI. Dalam pledoinya dari balik tahanan, Taufik mengutip Yusuf Ateh: model reformasi birokrasi Ngawi “tidak lazim tapi efektif”. “Baru kali ini saya temui Staf Ahli Bupati yang tangani SAKIP, reformasi birokrasi, dan zona integritas—bukan Bagian Organisasi, Bappeda, atau Inspektorat,” tulis Taufik.
Jejak Prestasi Lain Taufik
Sebelum fokus SAKIP, Taufik merintis Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE, kini SPSE) dan Unit Layanan Pengadaan (ULP, kini UKPBJ) Ngawi sejak 2010 sebagai Kepala Bagian Administrasi Pembangunan. Saat menjabat Plt Kepala Dinas Koperasi dan UKM, ia berkontribusi mengantarkan Bupati Ngawi Budi Sulistyono menerima Satyalancana Perkoperasian dari Presiden pada Hari Koperasi Nasional 2019 di Purwokerto—bersama lima kepala daerah lain.
Rekan kerja Taufik yang enggan disebut namanya memuji kapasitasnya: “Pak Taufik pintar dan lurus, tapi sosialisasinya kurang. Orang berprestasi sering disingkirkan.
“Suara dari Balik Jeruji
Dalam pledoi, Taufik menyuarakan keprihatinan: “Di tengah pengapnya penjara, serangan gudik dan bisul, tuduhan korupsi yang sebabkan kerugian negara tak benar. Saya bangun SAKIP Ngawi dari C ke A, kini end up di bui. Adilkah?” Publik kini menanti putusan akhir: apakah Taufik terbukti bersalah, atau justru korban dinamika birokrasi yang pernah ia ubah?

























