Breaking News

RUDENIM DENPASAR DEPORTASI WN AUSTRALIA AKIBAT DUGAAN GANGGUAN KEJIWAAN

Sabtu, 31 Agustus 2024 - 16:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Badung , Surya Indonesia.net – Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Denpasar kembali mengambil tindakan tegas dengan mendeportasi seorang warga negara asing sebagai respons terhadap pelanggaran aturan imigrasi dan gangguan ketertiban umum di Bali. Satuan Kerja Keimigrasian di bawah koordinasi Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Bali, Pramella Yunidar Pasaribu, menunjukkan komitmennya dalam menjaga ketertiban dan menegakkan hukum imigrasi dengan mendeportasi seorang WNA asal Australia berinisial EJB (36). Deportasi dilakukan karena pelanggaran terhadap Pasal 75 ayat (1) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.

Pasal 75 ayat (1) UU No. 6 Tahun 2011 memberikan wewenang kepada Pejabat Imigrasi untuk melakukan Tindakan Administratif Keimigrasian terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia jika mereka melakukan kegiatan yang membahayakan keamanan dan ketertiban umum atau tidak menghormati peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Rumah Detensi Imigrasi Denpasar, Albertus Widiatmoko, menjelaskan bahwa pada tanggal 25 Agustus 2024, EJB dilaporkan oleh warga setempat karena mengalami gangguan kejiwaan yang menyebabkan gangguan ketertiban umum. Laporan ini pertama kali diajukan oleh mertua EJB, N.S., seorang WNI, kepada perangkat desa di bilangan Kaliuntu, Buleleng. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh petugas Kantor Imigrasi Kelas II TPI Singaraja, EJB ditemukan di rumah mertuanya di wilayah Buleleng. Berdasarkan keterangan keluarga, EJB telah menunjukkan perilaku yang tidak stabil selama beberapa hari sebelumnya, termasuk membuat keributan di Kuta dan di rumah mertuanya di Singaraja. EJB juga sering berbicara sendiri dan memarahi mertuanya, bahkan melarang mereka untuk tinggal di rumah mertuanya sendiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

EJB, yang datang ke Indonesia pada tanggal 28 Juli 2024 menggunakan Visa on Arrival (VOA) melalui autogate yang berlaku hingga 26 Agustus 2024, belum melakukan pelanggaran overstay karena ditemukan oleh petugas satu hari sebelum masa berlaku VOA berakhir. Namun, perilakunya yang dianggap mengganggu ketertiban umum menjadi dasar bagi pihak Imigrasi untuk mengambil tindakan lebih lanjut. Setelah menerima laporan tersebut, pihak Imigrasi melakukan tindakan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Pada tanggal 28 Agustus 2024, oleh Kantor Imigrasi Singaraja, EJB dibawa ke Rumah Detensi Imigrasi Denpasar untuk pendetensian lebih lanjut. Setelah dua hari proses pendetensian dan pertimbangan hukum, EJB kemudian dideportasi pada tanggal 30 Agustus 2024. Tindakan deportasi dilakukan dengan pengawalan ketat oleh tiga petugas Rudenim Denpasar, dimulai dari persiapan di Rudenim Denpasar hingga proses check-in dan keberangkatan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai untuk menunggu penerbangannya menuju Perth, Australia.

Mengingat pelanggaran yang dilakukan, EJB juga diusulkan untuk masuk dalam daftar penangkalan Direktorat Jenderal Imigrasi agar tidak dapat kembali memasuki wilayah Indonesia di masa mendatang. Rumah Detensi Imigrasi Denpasar dengan tegas menjalankan tugas dan wewenangnya dalam penegakan hukum imigrasi di Indonesia. Deportasi terhadap EJB tidak hanya sebagai langkah penegakan hukum yang konsisten, tetapi juga sebagai upaya menjaga keamanan dan ketertiban umum di Bali.

Menanggapi deportasi ini, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Bali, Pramella Yunidar Pasaribu, menyampaikan, “Kami tidak akan menoleransi perilaku yang merusak ketertiban dan keamanan di wilayah Bali. Deportasi ini adalah bukti bahwa setiap pelanggaran terhadap hukum imigrasi akan ditindak tegas sesuai dengan aturan yang berlaku. Tidak peduli siapa mereka atau dari mana asalnya, semua orang harus mematuhi hukum Indonesia.”

Tindakan deportasi ini menjadi peringatan bagi WNA lainnya untuk selalu mematuhi aturan imigrasi di Indonesia. Sesuai Pasal 102 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, penangkalan dapat dilakukan untuk jangka waktu tertentu dan dapat diperpanjang sesuai kebutuhan, tergantung pada penilaian dan pertimbangan Direktorat Jenderal Imigrasi.

( Ags )

Berita Terkait

Tiga Tahun Menanti Keadilan, Warga Kintap Laporkan Dugaan Penguasaan Lahan dan Kerusakan Lingkungan”
Dandim 1622/Alor Tinjau Langsung Pembangunan Jembatan Strategis di Mainang
Pembangunan Jembatan Program Karya Bhakti TNI AD Tingkatkan Konektivitas Wilayah Pedesaan
Karya Bhakti Skala Besar TNI AD Percepat Pembangunan Jembatan Antar Desa di Alor Tengah Utara
TNI AD Mulai Pekerjaan Struktur Dasar Jembatan Penghubung Welai Selatan–Tominuku
Satgas Karya Bhakti TNI AD Terus Genjot Pembangunan Sumur Bor di Kecamatan Kabola
Pengeboran Pilot Hole Sumur Bor Jadi Langkah Awal TNI AD Atasi Krisis Air Bersih di Alor
TNI AD dan Masyarakat Bersinergi Wujudkan Akses Air Bersih Melalui Program Manunggal Air

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 00:13 WIB

Tiga Tahun Menanti Keadilan, Warga Kintap Laporkan Dugaan Penguasaan Lahan dan Kerusakan Lingkungan”

Selasa, 2 Juni 2026 - 00:10 WIB

Dandim 1622/Alor Tinjau Langsung Pembangunan Jembatan Strategis di Mainang

Selasa, 2 Juni 2026 - 00:08 WIB

Pembangunan Jembatan Program Karya Bhakti TNI AD Tingkatkan Konektivitas Wilayah Pedesaan

Selasa, 2 Juni 2026 - 00:06 WIB

Karya Bhakti Skala Besar TNI AD Percepat Pembangunan Jembatan Antar Desa di Alor Tengah Utara

Selasa, 2 Juni 2026 - 00:04 WIB

TNI AD Mulai Pekerjaan Struktur Dasar Jembatan Penghubung Welai Selatan–Tominuku

Senin, 1 Juni 2026 - 20:24 WIB

Satgas Karya Bhakti TNI AD Terus Genjot Pembangunan Sumur Bor di Kecamatan Kabola

Senin, 1 Juni 2026 - 20:22 WIB

Pengeboran Pilot Hole Sumur Bor Jadi Langkah Awal TNI AD Atasi Krisis Air Bersih di Alor

Senin, 1 Juni 2026 - 20:19 WIB

TNI AD dan Masyarakat Bersinergi Wujudkan Akses Air Bersih Melalui Program Manunggal Air

Berita Terbaru